Oleh: kavung | Februari 21, 2008

Bocah Penjual Opak dan Lelaki Tua

Rutinitas ku sehari – hari adalah mengantar putraku ke sekolah dan putri kecilku ke penitipan sebelum ngantor. Setiap kali aku melewati salah satu jalan yang ku lalui, aku melihat seorang lelaki tua hanya berselimut usang tidur di tepi jalan, sebenarnya aku tak pernah berpikir tentang laki – laki tua itu karena aku pikir itu hal biasa. Pada sore hari saat menjemput putri ku, aku melewati jalan yang sama aku melihat tiga orang bocah menjajakan dagangannya sambil berteriak opak…opak….opak….. “daerah ini rumah elite mana mungkin ada yang mau beli opak” pikirku sambi lewat dan entah kemana para penjual opak itu. Yang aku tahu mereka pulang dengan wajah ceria karena dagangan mereka ludes. Timbullah rasa penasaran di hati, ku ikuti langkah ke tiga bocah itu hmmm…..lumayan jauh juga mereka berjalan memutar ke sebuah gang dan ternyata di belakang rumah elite ada rumah penduduk lumayan rame di gang sempit dan merekalah yang membeli dagangan ketiga bocah itu. Satu hal yang tak pernah aku duga ketiga bocah itu pulang melewati jalan yang sama dan berhenti di tempat dimana si lelaki tua sering tidur hmmm….rupanya mereka menunggu seseorang yang tak lama kemudian datanglah seoarang yang di tunggu yang tak lain adalah lelaki tua renta dan duduk di tepi jalan bocah – bocah itu membuka sebuah bungkusan dan duduk di depan laki – laki itu sambil berkata” kek kami membawa makanan buat kakek, makanlah kakek pasti lapar” kata salah satu dari mereka dan si kakek pun makan dengan lahapnya setelah selesai makan dia berkata “terima kasih nak, bagaimana jualan kalian hari ini laku semua? bocah – bocah itu kompak menyahut “laku semua kek ini semua berkat doa kakek” nampaknya sore itu cuaca tak bersahabat akupun larut dengan meneteskan air mata dari kejauhan bocah – bocah itu berbuat kebaikan yang kecil namun besar bagi lelaki tua itu. Ketiga bocah itu pamit “kek kami pulang sebentar lagi hujan turun kasihan kakek kehujanan” dan si kakek menjawab ” tidak apa – apa nak pergilah sebelum ibu kalian cemas menunggu” dan anak – anak itu pun berlari pulang karena takut kehujanan.

Kapan ya…kita bisa melakukan hal yang sama seperti ketiga bocah ini, perbuatan yang kecil namun sangat berarti bagi sesama


Tanggapan

  1. Ibu juga telah berbuat suatu yang berarti. Meskipun hanya sekedar memperhatikannya dari jauh, tapi minimal ibu juga menyimpan kemuliaan hati.

  2. Wah begitu mulianya, coba jika kita semua bisa saling berbagi dalam kebersamaan maka alangkah indahnya hidup ini. Tul ngak mbka kavung?

    Btw tulisannya makin ok aja tuh, kapan nih go mau Internasional dengan kavung.com ? blognya masih kosong aja tuh mbak. Eee….mampir ya di blog baruku itu http://frisna.cn ;-) maksudnya domain baru gitu :-)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori